KESENIAN SENJANG DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN
Asal mula
tradisi lisan senjang sendiri sulit ditentukan darimana, menurut Suan (2008)
seni tutur senjang yang merupakan kesenian khas masyarakat Musi Banyuasin
bermula di salah satu kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Musi
Banyuasin, yaitu Kecamatan Sungaikeruh. Di Kecamatan inilah pertamakali
kesenian senjang dipopulerkan, kemudian mulai dikembangkan ke Kecamatan
Babat-toman, antar lain desa Mangunjaya, ke Kecamatan Sangadesa, antara lain
desa Ngunang, desa Nganti, desa Sangadesam dan terus ke Kecamatan Sekayu.
Karena itu irama senjang dari tiap-tiap kecamatan tersebut tidak sama.
Senjang yang ada pada
masyarakat Musi Banyuasin sudah dilakukan secara turun menurun oleh para
leluhur sejak dahulu hingga sekarang. Dengan demikian, pertunjukan ini sudah
menjadi kebiasaan masyarakat Musi Banyuasin sehingga dikatakan sebagai sebuah
tradisi. Dulu setiap acara kawinan di Muba (Musi Banyuasin) kurang lengkap,
kalau belum menghadirkan Senjang.
Penutur sastra lisan baik puisi atau prosa di Musi Banyuasin disebut
penutur atau tukang cerita. Khusus untuk sastra tutur senjang kadangkala
penuturnya disebut pesenjang. Penutur, baik laki-laki ataupun
perempuan adalah orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah tempat tumbuh
dan berkembangnya suatu sastra tutur tersebut. Penutur di daerah Sumatra
Selatan biasannya orang-orang tua yang sudah mempunyai anak atau cucu.
Umurnya berkisar 50 sampai 60 tahun lebih.
1.
Pengertian
Senjang
Senjang adalah salah satu bentuk media seni budaya yang menghubungkan
antara orang tua dengan generasi muda atau dapat juga antara masyarakat dengan
Pemerintah di dalam penyampaian aspirasi yang berupa nasihat, kritik maupun
penyampaian strategi ungkapan rasa gembira.
2.
Asal Usul
Senjang
Dinamakan Senjang karena antara lagu dan musik tidak saling bertemu, artinya kalau syair
berlagu musik berhenti, kalau musik berbunyi orang yang ber-Senjang diam
sehingga keduanya tidak pernah bertemu. Itulah yang disebut Senjang.
Bila ditinjau dari bentuknya, Senjang tidak lain dari bentuk puisi yang
berbentuk pantun.
Kesenian senjang yang
merupakan salah satu kesenian khas masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin bermula
disalah satu kecamatan yang ada diwilayah Kabupaten Musi Banyuasin yaitu Kecamatan
Sungai Keruh. Dikecamatan ini lah pertama kali kesenian senjang dipopulerkan,
kemudian mulai dikembangkan ke Kecamatan Babat Toman antara lain Desa Mangun
Jaya. Kecamatan Sanga Desa antara lain Desa Ngunang, Nganti, Sanga Desa dan
terus ke Kecamatan Sekayu. Karena itu irama Senjang dari tiap-tiap Kecamatan
tersebut tidak sama. untuk kecamatan sanga desa yang terkenal dari desa Ngulak
II (arip) dan juga yang paling terkenal dari Desa Terusan (mat Jening).
3.
Bentuk
Senjang
Bila ditinjau dari
bentuknya, senjang tidak lain dari bentuk puisi yang berbentuk pantun
(Talibun). Oleh sebab itu, jumlah Liriknya dalam satu bait selalu lebih dari
empat baris. Satu keistimewaan dari kesenian senjang ini adalah penyajiannya
yang kompleks sehingga menarik. Dikatakan kompleks karena penyajianya selalu
dinyanyikan dan diiringi dengan musik. Akan tetapi, ketika pesenjang
melantunkan senjangnya musik berhenti. Pesenjang biasanya menyanyi sambil
menari. Ia dapat membawakan senjang itu sendirian tetapi tidak jarang pula
pesenjang tampil berdua. Walaupun irama senjang ini pada umumnya monoton,
tetapi juga mengajak audiens terlibat sekaligus terhibur.
Penampilan senjang
tampaknya mengalami perkembangan. Pada zaman dahulu, musik pengiring senjang
adalah musik tanjidor. Seiring dengan perkembangan permusikan dewasa ini,
tanjidor sudah nyaris langkah digunakan, tetapi penggantinya adalah musik
melayu atau organ tunggal. Pada zaman dahulu, penutur senjang biasanya
menciptakan senjangnnya secara spontan, sehingga tema yang akan disampaikan
disesuaikan dengan suasana yang dihadapinya. Akan tetapi, sekarang kepandaian
senjang serupa itu sudah sangat langkah. Pesenjang biasanya menyiapkan
senjangnya jauh hari sebelumnya. Bahkan sering terjadi pesenjang menuturkan
senjangnya dengan melihat teks yang telah dipersiapkan.
Ikatan senjang juga
memiliki pola tersendiri. Sebuah senjang biasanya terdiri dari tiga bagian.
Bagian pertama merupakan bagian pembuka. Bagian kedua merupakan isi senjang
yang akan disampaikan. Bagian ketiga merupakan bagian penutup yang biasanya
berisi permohonan maaf dan pamit dari pesenjang.
4.
Fungsi
Senjang
Bila dilihat dari
penampilan dan isi yang terdapat di dalam sebuah senjang, beberapa fungsi yang
terdapat di dalamnya adalah sebagai berikut :
1) untuk menghibur. Fungsi ini dapat dirasakan ketika senjang itu akan
ditampilkan. Mengapa demikian? ini disebabkan oleh penampilan senjang selalu
diiringi oleh musik yang dinamis. Musik dan penuturan senjang tampil secara
bergantian. Sebelum bagian pembuka ada musik yang mengiringinya. Antara bagian
pembuka dan bagian isi juga diselingi dengan musik. Antara bagian isi dan
bagian penutup pun diselingi oleh musik. Pada bagian akhir musik akan muncul
lagi. Walaupun irama musiknya yang itu - itu juga, penonton akan merasa
terhibur.
2) untuk menyampaikan nasihat (didaktis). Nasihat ini tidak hanya ditujukan
kepada anak-anak, tetapi juga ditujukan kepada para remaja bahkan orang tua.
Oleh sebab itu senjang sering dituturkan pada pesta keluarga seperti pesta perkawinan,
khitanan dan lain-lain. Pada kesempatan ini semua keluarga baik tua maupun
muda, dewasa maupun anak-anak berkumpul. Dengan demikian, semua usia tadi dapat
menqikuti penuturan senjang itu. Pesan moral yang dituturkan oleh pesenjang
dengan bernyanyi sambil menari itu cukup menqhibur dan tidak terkesan
menggurui.
3) sebagai alat kontrol sosial dan politik Fungsi ini terutama sekali terlihat
ketika senjang dituturkan pada acara yang dihadiri pejabat, baik acara
pemerintahan maupun acara kekeluargaan. Akan tetapi, karena format
penyampaiannya selalu didahului dengan permohonan izin dan maaf dan diakhiri
pula dengan permohonan pamit dan maaf. Serta diiringi dengan musik dan tari
yang dilakukan pesenjang, kontrol, kritik yang disampaikan oleh pesenjang itu
menjadi enak didengar, tidak membuat pihak yang dikontrol atau dikritik
tersinggung. Senjang mengkritik tetapi tidak menyakiti, mengontrol tetapi tidak
menghujat pihak yang dikritiknya.
5. Makna dan Nilai pada Senjang
Makna dan nilai yang terkandung pada Senjang antara lain
berisi nasehat, ajaran moral, kritik, yang bersifat edukatif dan sangat berguna
dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Nasehat tersebut berfungsi menyadarkan
dan mengontrol orang-orang yang mendengar Senjang agar tidak melakukan hal-hal
di luar norma-norma masyarakat seperti dikatakan Suan (2008). Sebuah
tradisi lisan termasuk Senjang, dipertahankan oleh masyarakat pemilik
tradisi lisan karena kebermanfaatnnya dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya,
nilai dan fungsi Senjang tersebut masih dirasakan oleh masyarakat
pemilik.
6. Pola Pewarisan Tradisi Lisan Senjang
Sebuah
tradisi bisa bertahan atau tidak sangat bergantung pada masyarakat
pendukungnya. Hal ini berarti bahwa sepanjang masyarakat masih menginginkan
tradisi itu, maka dengan sendirinya tradisi tersebut akan eksis. Sebaliknya,
jika masyarakat pendukungnya sudah tidak menginginkan tradisi itu, maka secara
otomatis tradisi tersebut secara perlahan-lahan akan hilang. Oleh karena itu,
antara tradisi dan masyarakat pendukungnya tidak bisa dipisahkan sepanjang
keduanya saling menghidupi. Senjang yang hingga saat ini tetap bertahan
atau eksis pada Musi Banyuasin ditengah-tengah maraknya arus globalisasi
disebabkan masyarakat pendukungnya masih menginginkan tradisi itu karena
dianggap penting dan bermanfaat oleh masyarakat pendukungnya.
Proses
transmisi atau pewarisan terhadap tradisi sangat penting, sebab jika tidak ada
pewarisan atau penerusan tradisi, maka hal itu akan berakibat pada punahnya
tradisi lisan Senjang tersebut. Sebuah tradisi yang tidak diwariskan
kepada generasi muda, maka tradisi tersebut akan berangsur-angsur hilang.
Kebertahanan sebuah tradisi atau kebudayaan sangat bergantung pada manusia atau
masyarakat pendukungnya. Apalagi faktanya, hampir sebagian besar pe Senjang yang
ada saat ini sudah berusia lanjut yaitu di atas 50 tahun.
Hal inilah
yang menjadi kegelisahan dan keresahan bagi masyarakat penuturnya terutama
generasi tua. Oleh karena itu, untuk mengatasi dan mengantisipasi gejala
seperti ini, pewarisan sebuah tradisi sangat penting untuk dilakukan bagi
penyelamatan tradisi di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Tentu proses
pentramisian ini haruslah memiliki pola dan model-model yang sesuai
dengan kondisi saat ini. Sebab dulu pola pentramisian masih sangat tradisional
dan alami, para seniman Senjang mendapat keahliannya dari orang tua dan
sebagai, namun saat sangat berbeda kalau dulu pertunjukan ini sangat banyak
dilakukan oleh masyarakat sehingga mereka bisa menonton kapan saja, dan yang
tertarik bisa langsung belajar dengan mendengar kesenian ini sehingga
proses pentramisiannya sangat non formal. Namun, sekarang walaupun Senjang
masih hadir di acara-acara adat perkawinan tetapi sudah tidak
banyak lagi, karena kalah dengan kesenian populer lainnya sehingga proses
pentranmisian pun makin sulit dan tertutup. Apalagi, dengan minimnya minat dari
generasi muda untuk mendalami kesenian tradisi ini dengan berbagai alasan.
Jika dulu
polanya masih dilakukan secara tradisional dan alami dan lancar dilakukan
karena masih banyak generasi muda yang berminat dan ruang untuk mendengar, menyaksikan
pertunjukan itu juga banyak dilakukan oleh masyarakat. Akan tetapi saat ini,
selain jarangnya pertunjukan ini dilakukan, juga minimnya generasi muda
berminat untuk mendalami tradisi ini. Maka itu perlu dikaji dan diteliti lebih
jauh, bagaimana pola dan model yang pas dengan kondisi saat ini agar kesenian
tradisi ini tidak hilang. Sebab dengan hilangnya satu bentuk tradisi maka
samber ilmu pengetahuan juga hilang. Apalagi, kesenian Senjang masih di
dukung masyarakatnya walaupun tidak semarak dulu lagi. Artinya dengan
menggunakan pola pewarisan yang baik, maka pewarisan tradisi dalam hal ini Senjang
juga bisa berjalan baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar