Kamis, 27 November 2014

Kemas Ulang Informasi

Mengetahui Lebih dalam Tentang Kemas Ulang Informasi

1.    Pengertian Kemas Ulang Informasi
Sebelum membahas apa itu kemas ulang informasi kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu informasi ? Informasi adalah berbagai ucapan atau pesan yang disampaikan oleh seseorang yang ditujukan kepada orang lain.
Sedangkan kemas ulang informasi adalah suatu kegiatan dalam merubah suatu informasi yang bisa jadi berupa perubahan bentuk, perubahan bahasa menjadi sesuatu yang lebih menarik lagi untuk diketahui. Kemas ulang informasi dalam perpustakaan sangat mengharuskan peran pustakawan dalam pelayanan penyebaran informasi, penyebaran informasi terseleksi, pembuatan buletin informasi, pelestarian budaya, serta kegiatan yang bermanfaat pada kehidupan sosial para user (pemakai).
2.    Konsep Kemas Ulang Informasi
konsep kemas ulang informasi mencakup pekerjaan penyunting dan penerjemahan yang memerlukan proses yang sistematis untuk memberikan nilai tambah pada pelayanan informasi. Komponen penting lainnya yang terdapat dalam konsep informasi termasuk analisis, sintesis, dan transmisi format media dan simbol untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna target, kelengkapan serta kenyamanan.



          Mengapa pustakawan melakukan kemas ulang informasi ? alasannya adalah sebagai berikut:
1)     Untuk menyesuaikan informasi yang tersedia dengan kebutuhan pemakai yang tersedia di perpustakaan dalam berbagai format dan subjek, karena pemakai memerlukan informasi yang spesifik.
2)    Untuk mempermudah penyebaran dan pengelolaan informasi yang sudah berubah bentuk sehingga lebih mudah dan cepat dikelola dan disebarluaskan.

3.    Fungsi Kemas Ulang Informasi
Secara lebih rinci fungsi kemas ulang informasi adalah sebagai berikut:
1)     Sarana Pendokumentasian Informasi
Kemas ulang informasi berfungsi sebagai sarana pendokumentasian informasi, karena melalui kemas ulang informasi yang mengalami perubahan bentuk ataupun bahasa suatu informasi itu didokumentasikan dalam bentuk informasi yang baru.
2)    Sarana Untuk Memilih Informasi yang Bermanfaat Bagi Pemakai Secara Sistematis
Fungsi kemas ulang informasi sebagai sarana untuk memilih informasi yang bermanfaat bagi pemakai, karena dengan adanya kegiatan kemas ulang informasi yang tentunya sudah dibuat dalam bentuk yang lebih menarik lagi dan lebih ringkas sehingga mempermudah para pemakai untuk memilih informasi yang bermanfaat bagi pemakai.


3)     Sarana Penyajian dan Alih Informasi yang Lebih Ekstensif
Sebagai sarana penyajian dan alih informasi yang lebih ekstensif, kemas ulang informasi yang sudah dibuat dalam bentuk penyajian informasi yang lebih menarik lagi akan menyediakan informasi dalam bentuk yang baru yang lebih ekstensif.
4)    Alat Terjemahan
Kemas ulang informasi yang berfungsi sebagai alat terjemahan karena dalam kegiatan kemas ulang informasi adalah melakukan penyuntingan dan penerjemahan informasi yang dibuat dalam bentuk maupun bahasa yang berbeda sehingga adanya proses penerjemahan di dalamnya.
5)     Peluang Untuk Menerapkan Hasil Penelitian
Kemas ulang informasi berfungsi sebagai suatu peluang dalam menerapkan hasil penelitian karena di dalam penerapan hasil penelitian itu adanya proses penyuntingan informasi yang dapat dibuat dalam bentuk yang lebih menarik lagi.
6)    Sarana Penyajian Informasi Relevan Secara Langsung
Fungsi kemas ulang informasi sebagai sarana penyajian informasi yang relevan, karena dalam kegiatan kemas ulang informasi adalah menyajikan informasi dalam bentuk lain yang relevan.





4.    Bentuk Pengemasan Informasi
Contoh bentuk pengemasan informasi yang relavan digunakan bagi pemakai/pemustaka perpustakaan adalah sebagai berikut:
1)     Publikasi Cetak.
Pengemasan informasi biasanya dalam bentuk publikasi cetak seperti Brosur, Newsletter, Prosiding, Indeks Majalah, Indeks Artikel, Kumpulan Artikel Terpilih, Bibliografi, dan bentuk publikasi terseleksi lainnya. Kemasan dalam bentuk publikasi cetak ini akan sangat membantu pengguna dalam menemukan informasi tercetak yang terpilih sesuai dengan bidang kajian dan kebutuhannya. Sehingga pengguna tidak perlu membuang waktu untuk menelusur satu demi satu kebutuhan informasinya di perpustakaan.
2)    Media Audio-Visual
Informasi juga dapat dikemas dalam bentuk Audio-Visual seperti dalam bentuk Audio-Video Cassette, CD- Interaktif, VCD, DVD, dan bentuk lainnya. Kemasan informasi ini merupakan kemasan yang menarik karena akan mengajak pengguna menggunakan informasi dalam bentuk gambar dan suara.
3)     Pangkalan Data Lokal.
Kemasan informasi juga dapat diwujudkan dalam pangkalan data (database) lokal. Sekitar 2 tahun yang lalu, konsep pangkalan data lokal ini banyak digunakan di Indonesia, terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi ilmiah bagi para pengguna melalui semacam server lokal, baik yang berupa file maupun CD-ROM. Contohnya adalah CD Database ERIC, CD Database Medline, CD-Database Agricola, dan sebagainya.
4)    Pangkalan Data Online.
Saat ini di Indonesia pangkalan data Online sedang mengalami perkembangan yang cukup baik, baik dengan “membeli” kemasan yang sudah jadi, mengambil dari sumber-sumber gratis maupun membangun sendiri. Kemasan informasi dalam bentuk ini telah memberikan kesempatan akses informasi secara lebih luas tidak terbatas dalam perpustakaan. Hal ini berkat kemajuan teknologi internet yang mau tidak mau harus diikuti oleh perpustakaan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi pada penggunanya. Contoh beberapa kemasan informasi siap pakai dalam bentuk pangkalan data online yang diproduksi antara lain EBSCOHost, ProQuest, ScienceDirect, IEEE Database, JSTOR dan lain sebagainya.

5.    Tahapan Kemas Ulang Informasi
Langkah-langkah yang dilakukan oleh pustakawan dalam kegiatan kemas ulang informasi adalah sebagai berikut:
1)     Orientasi kebutuhan dan tuntutan pemakai/pengguna informasi di perpustakaan
2)    Seleksi dan penetapan topik informasi yang akan dikemas. Penetapan dan seleksi ini biasanya akan melibatkan ide-ide dan masukan dari staf ahli, produsen produk kemasan informasi, konsumen produk & jasa informasi, karyawan, dan manajemen puncak.
3)     Menentukan bentuk kemasan informasi
4)    Penetapan strategi pencarian informasi yang akan dikemas
5)    Penetapan lokasi informasi dan cara mengaksesnya
6)    Pengolahan informasi, mengevaluasi, dan mensitir informasi
7)    Mengemas informasi dalam bentuk yang telah ditetapkan
8)    Mengevaluasi produk yang dikeluarkan dan proses pembuatannya


Minggu, 02 November 2014

senjang khas musi banyuasin



KESENIAN SENJANG DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN
Asal mula tradisi lisan senjang sendiri sulit ditentukan darimana, menurut Suan (2008) seni tutur senjang yang merupakan kesenian khas masyarakat Musi Banyuasin bermula di  salah satu kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, yaitu Kecamatan Sungaikeruh. Di Kecamatan inilah pertamakali kesenian senjang dipopulerkan, kemudian mulai dikembangkan ke Kecamatan Babat-toman, antar lain desa Mangunjaya, ke Kecamatan Sangadesa, antara lain desa Ngunang, desa Nganti, desa Sangadesam dan terus ke Kecamatan Sekayu. Karena itu irama senjang dari tiap-tiap kecamatan tersebut tidak sama.
Senjang yang ada pada masyarakat Musi Banyuasin sudah dilakukan secara turun menurun oleh para leluhur sejak dahulu hingga sekarang. Dengan demikian, pertunjukan ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Musi Banyuasin sehingga dikatakan sebagai sebuah tradisi. Dulu setiap acara kawinan di Muba (Musi Banyuasin) kurang lengkap, kalau belum menghadirkan Senjang
Penutur sastra lisan baik puisi atau prosa di Musi Banyuasin disebut penutur atau tukang cerita. Khusus untuk sastra tutur senjang kadangkala penuturnya disebut pesenjang. Penutur, baik laki-laki   ataupun perempuan adalah orang yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah tempat tumbuh dan berkembangnya suatu sastra tutur tersebut. Penutur di daerah Sumatra Selatan biasannya orang-orang tua yang sudah mempunyai  anak atau cucu. Umurnya berkisar 50 sampai 60 tahun lebih.



1.        Pengertian Senjang
Senjang adalah salah satu bentuk media seni budaya yang menghubungkan antara orang tua dengan generasi muda atau dapat juga antara masyarakat dengan Pemerintah di dalam penyampaian aspirasi yang berupa nasihat, kritik maupun penyampaian strategi ungkapan rasa gembira.

2.        Asal Usul Senjang
Dinamakan Senjang karena antara lagu dan musik tidak saling bertemu, artinya kalau syair berlagu musik berhenti, kalau musik berbunyi orang yang ber-Senjang diam sehingga keduanya tidak pernah bertemu. Itulah yang disebut Senjang. Bila ditinjau dari bentuknya, Senjang tidak lain dari bentuk puisi yang berbentuk pantun.
Kesenian senjang yang merupakan salah satu kesenian khas masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin bermula disalah satu kecamatan yang ada diwilayah Kabupaten Musi Banyuasin yaitu Kecamatan Sungai Keruh. Dikecamatan ini lah pertama kali kesenian senjang dipopulerkan, kemudian mulai dikembangkan ke Kecamatan Babat Toman antara lain Desa Mangun Jaya. Kecamatan Sanga Desa antara lain Desa Ngunang, Nganti, Sanga Desa dan terus ke Kecamatan Sekayu. Karena itu irama Senjang dari tiap-tiap Kecamatan tersebut tidak sama. untuk kecamatan sanga desa yang terkenal dari desa Ngulak II (arip) dan juga yang paling terkenal dari Desa Terusan (mat Jening).

3.        Bentuk Senjang
Bila ditinjau dari bentuknya, senjang tidak lain dari bentuk puisi yang berbentuk pantun (Talibun). Oleh sebab itu, jumlah Liriknya dalam satu bait selalu lebih dari empat baris. Satu keistimewaan dari kesenian senjang ini adalah penyajiannya yang kompleks sehingga menarik. Dikatakan kompleks karena penyajianya selalu dinyanyikan dan diiringi dengan musik. Akan tetapi, ketika pesenjang melantunkan senjangnya musik berhenti. Pesenjang biasanya menyanyi sambil menari. Ia dapat membawakan senjang itu sendirian tetapi tidak jarang pula pesenjang tampil berdua. Walaupun irama senjang ini pada umumnya monoton, tetapi juga mengajak audiens terlibat sekaligus terhibur.
Penampilan senjang tampaknya mengalami perkembangan. Pada zaman dahulu, musik pengiring senjang adalah musik tanjidor. Seiring dengan perkembangan permusikan dewasa ini, tanjidor sudah nyaris langkah digunakan, tetapi penggantinya adalah musik melayu atau organ tunggal. Pada zaman dahulu, penutur senjang biasanya menciptakan senjangnnya secara spontan, sehingga tema yang akan disampaikan disesuaikan dengan suasana yang dihadapinya. Akan tetapi, sekarang kepandaian senjang serupa itu sudah sangat langkah. Pesenjang biasanya menyiapkan senjangnya jauh hari sebelumnya. Bahkan sering terjadi pesenjang menuturkan senjangnya dengan melihat teks yang telah dipersiapkan.
Ikatan senjang juga memiliki pola tersendiri. Sebuah senjang biasanya terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama merupakan bagian pembuka. Bagian kedua merupakan isi senjang yang akan disampaikan. Bagian ketiga merupakan bagian penutup yang biasanya berisi permohonan maaf dan pamit dari pesenjang.

4.        Fungsi Senjang
Bila dilihat dari penampilan dan isi yang terdapat di dalam sebuah senjang, beberapa fungsi yang terdapat di dalamnya adalah sebagai berikut :
1)      untuk menghibur. Fungsi ini dapat dirasakan ketika senjang itu akan ditampilkan. Mengapa demikian? ini disebabkan oleh penampilan senjang selalu diiringi oleh musik yang dinamis. Musik dan penuturan senjang tampil secara bergantian. Sebelum bagian pembuka ada musik yang mengiringinya. Antara bagian pembuka dan bagian isi juga diselingi dengan musik. Antara bagian isi dan bagian penutup pun diselingi oleh musik. Pada bagian akhir musik akan muncul lagi. Walaupun irama musiknya yang itu - itu juga, penonton akan merasa terhibur.
2)      untuk menyampaikan nasihat (didaktis). Nasihat ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga ditujukan kepada para remaja bahkan orang tua. Oleh sebab itu senjang sering dituturkan pada pesta keluarga seperti pesta perkawinan, khitanan dan lain-lain. Pada kesempatan ini semua keluarga baik tua maupun muda, dewasa maupun anak-anak berkumpul. Dengan demikian, semua usia tadi dapat menqikuti penuturan senjang itu. Pesan moral yang dituturkan oleh pesenjang dengan bernyanyi sambil menari itu cukup menqhibur dan tidak terkesan menggurui.
3)      sebagai alat kontrol sosial dan politik Fungsi ini terutama sekali terlihat ketika senjang dituturkan pada acara yang dihadiri pejabat, baik acara pemerintahan maupun acara kekeluargaan. Akan tetapi, karena format penyampaiannya selalu didahului dengan permohonan izin dan maaf dan diakhiri pula dengan permohonan pamit dan maaf. Serta diiringi dengan musik dan tari yang dilakukan pesenjang, kontrol, kritik yang disampaikan oleh pesenjang itu menjadi enak didengar, tidak membuat pihak yang dikontrol atau dikritik tersinggung. Senjang mengkritik tetapi tidak menyakiti, mengontrol tetapi tidak menghujat pihak yang dikritiknya.

5.      Makna dan Nilai pada Senjang
Makna dan nilai yang terkandung  pada Senjang antara lain berisi nasehat, ajaran moral, kritik, yang bersifat edukatif dan sangat berguna dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Nasehat tersebut berfungsi menyadarkan dan mengontrol orang-orang yang mendengar Senjang agar tidak melakukan hal-hal di luar norma-norma masyarakat seperti dikatakan Suan (2008).  Sebuah tradisi lisan termasuk Senjang, dipertahankan oleh masyarakat pemilik tradisi lisan karena kebermanfaatnnya dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya, nilai dan fungsi Senjang tersebut masih dirasakan oleh masyarakat pemilik.




6.      Pola Pewarisan Tradisi Lisan Senjang
Sebuah tradisi bisa bertahan atau tidak sangat bergantung pada masyarakat pendukungnya. Hal ini berarti bahwa sepanjang masyarakat masih menginginkan tradisi itu, maka dengan sendirinya tradisi tersebut akan eksis. Sebaliknya, jika masyarakat pendukungnya sudah tidak menginginkan tradisi itu, maka secara otomatis tradisi tersebut secara perlahan-lahan akan hilang. Oleh karena itu, antara tradisi dan masyarakat pendukungnya tidak bisa dipisahkan sepanjang keduanya saling menghidupi. Senjang yang hingga saat ini tetap bertahan atau eksis pada Musi Banyuasin ditengah-tengah maraknya arus globalisasi disebabkan masyarakat pendukungnya masih menginginkan tradisi itu karena dianggap penting dan bermanfaat oleh masyarakat pendukungnya.
Proses transmisi atau pewarisan terhadap tradisi sangat penting, sebab jika tidak ada pewarisan atau penerusan tradisi, maka hal itu akan berakibat pada punahnya tradisi lisan Senjang tersebut. Sebuah tradisi yang tidak diwariskan kepada generasi muda, maka tradisi tersebut akan berangsur-angsur hilang. Kebertahanan sebuah tradisi atau kebudayaan sangat bergantung pada manusia atau masyarakat pendukungnya. Apalagi faktanya, hampir sebagian besar pe Senjang yang ada saat ini sudah berusia lanjut yaitu  di atas 50 tahun.
Hal inilah yang menjadi kegelisahan dan keresahan bagi masyarakat penuturnya terutama generasi tua. Oleh karena itu, untuk mengatasi dan mengantisipasi gejala seperti ini, pewarisan sebuah tradisi sangat penting untuk dilakukan bagi penyelamatan tradisi di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Tentu proses pentramisian ini haruslah memiliki pola dan model-model yang sesuai  dengan kondisi saat ini. Sebab dulu pola pentramisian masih sangat tradisional dan alami, para seniman Senjang mendapat keahliannya dari orang tua dan sebagai, namun saat sangat berbeda kalau dulu pertunjukan ini sangat banyak dilakukan oleh masyarakat sehingga mereka bisa menonton kapan saja, dan yang tertarik bisa langsung belajar dengan  mendengar kesenian ini sehingga proses pentramisiannya sangat non formal. Namun, sekarang walaupun Senjang masih hadir  di acara-acara adat perkawinan  tetapi sudah tidak banyak lagi, karena kalah dengan kesenian populer lainnya sehingga proses pentranmisian pun makin sulit dan tertutup. Apalagi, dengan minimnya minat dari generasi muda untuk mendalami kesenian tradisi ini dengan berbagai alasan.
Jika dulu polanya masih dilakukan secara tradisional dan alami dan lancar dilakukan karena masih banyak generasi muda yang berminat dan ruang untuk mendengar, menyaksikan pertunjukan itu juga banyak dilakukan oleh masyarakat. Akan tetapi saat ini, selain jarangnya pertunjukan ini dilakukan, juga minimnya generasi muda berminat untuk mendalami tradisi ini. Maka itu perlu dikaji dan diteliti lebih jauh, bagaimana pola dan model yang pas dengan kondisi saat ini agar kesenian tradisi ini tidak hilang. Sebab dengan hilangnya satu bentuk tradisi maka samber ilmu pengetahuan juga hilang. Apalagi, kesenian Senjang masih di dukung masyarakatnya walaupun tidak semarak dulu lagi. Artinya dengan menggunakan pola pewarisan yang baik, maka pewarisan tradisi dalam hal ini Senjang juga bisa berjalan baik