Minggu, 26 Oktober 2014

resensi film freedom writers



FREEDOM WRITERS
Freedom writers adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata di Amerika. Di film ini diceritakan seorang gadis yang bernama Eva dia berasal dari keluarga yang terpandang di Amerika dan ia diajarkan oleh Ayahnya untuk membela rakyat bagian darinya. Pada hari pertama Eva sekolah dia menunggu Ayahnya untuk mengantar ke bis tetapi dia melihat perang untuk pertama kalinya. Bahkan Ayah Eva diculik dan di penjara oleh tentara berkulit putih karena Ayah Eva dianggap orang yang dihormati di bagiannya dan melindungi kaumnya. Eva dinobatkan sebagai anggota geng generasi ke-3 . di Long Beach terdapat kepercayaan kalau orang latin Asia atau berkulit hitam kehidupannya akan terancam bahkan bisa ditembak kapan saja jika keluar rumah. Dalam film ini diperlihatkan kentalnya permusuhan yang dilatarbelakangi ras menyebabkan meraka berkelahi demi merebutkan wilayah, saling membunuh demi ras, kebanggaan, dan kehormatan, berjuang demi apa yang mereka miliki.
Di California terdapat sekolah “Wilson High School” dimana sekolah ini mendapat nilai tertinggi di distrik, Namun menurun karena diadakan integrasi suka rela. Di sekolah ini terdapat sebagian siswa yang baru keluar dari penjara anak karena mereka diberikan 2 pilihan yaitu menjalani hukuman penjara atau melanjutkan sekolah di Wilson High School dengan syarat mereka dipasangkan alat pengintai. Erin Gruwell adalah guru Bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School yang berasal dari New Port Beach dimana dia ditugaskan untuk mengajar di kelas yang akademiknya kurang yaitu di ruang 203.
Di sekolah ini ada pemisahan dikelas yaitu kelas terhormat dan kelas bawah. Di kelas terhormat banyak siswa berkulit putih yang akademiknya bagus tetapi di sana juga terdapat satu siswa berkulit hitam yang akademiknya bagus dan kelas selanjutnya adalah kelas bawah dimana di kelas ini didominasi oleh siswa berkulit hitam yang kemampuan akademiknya kurang tetapi di kelas ini juga terdapat satu siswa berkulit putih. Tidak hanya perbedaan kelas tetapi  juga Diskriminasi ras yang dilakukan oleh pihak sekolah terlihat dari pemberian buku-buku teks bahan ajar. Kelas yang dengan akademis kurang hanya mendapat buku-buku bekas dan usang. 
Mrs Gruwell adalah guru muda yang cantik yang sangat semangat untuk mengajar di kelas 203. Awal kedatangan Mrs Gruwell para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya. Kabanyakan dari mereka tidak senang  terhadap orang berkulit putih. Mereka menganggap bahwa Gruwell tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang keras, kehidupan yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan kekerasan. Bagi mereka, kehidupan adalah bagaimana caranya mereka selamat dari kekerasan.
Di Negara barat anak-anak muda memiliki kebiasaan pergi malam-malam dengan mobil dengan kekasihnya masing-masing. Eva dan kekasinya paco pergi ke sebuah toko, lalu Eva masuk toko tersebut dan paco menunggu di dalam mobil. Paco melihat ada musuhnya yang sedang marah-marah di dalam toko dan setelahnya dia keluar dari toko. Paco sudah siap untuk menembak musuhnya itu dan melihat Paco yang ingin menembaknya dia menunduk sehingga tembakan Paco mengenai kekasih Cindy yaitu teman satu kelas eva. Di peristiwa ini yang hanyalah Eva dan Cindy yang melihatnya dan dijadikan saksi. Tetapi ketika ditanyakan polisi Eva memberi kesaksian yang salah karena dia ingin melindungi kekasihnya Paco.
Pada pertemuan selanjutnya ada salah satu murid di kelas Mrs Gruwell melakukan lelucon dengan menggambar orang dengan bibir tebal dan hidung besar yang diedar diseluruh murid dalam kelas tersebut hingga Mrs Gruwell mengetahuinya sehingga Mrs Gruwell memberitahu mereka tentang holocaust yaitu pembantaian besar-besaran dan peristiwa seperti ini akan memicu holocaust dan Mrs Gruwell memberi pembelajaran bahwa jika kita ingin dihormati oleh orang lain kita harus lebih dulu menghormati orang lain tetapi Eva dan teman-teman kelasnya tetap pada pendapat mereka bahwa orang berkulit putih ingin selalu dihormati dan mereka benci dengan orang berkulit putih. Dan dengan kejadian ini Mrs Gruwell semakin mengetahui bahwa anak-anak didiknya adalah orang dengan latar belakang korban peperangan. Setelah kejadian ini Mrs Gruwell mencari cara agar anak didiknya mengetahui tentang holocaust yaitu dengan meminjam buku diary Anne Frank di perpustakaan akan tetapi pihak perpustakaan tidak mengizinkan dengan alasan buku tersebut akan rusak jika dipinjam oleh anak kelas 203.
Mrs Gruwell tetap mencari cara agar anak-anak didiknya dapat membaca buku diary Anne Frank yaitu dengan menemui orang-orang yang berada di tingkat atas yaitu guru yang mengajar di kelas senior untuk mendukung tujuannya tetapi guru tersebut menolak dan mengejek keinginan Mrs Gruwell.
Pertemuan selanjutnya Mrs Gruwell melakukan pendekatan dengan anak-anak didiknya yaitu dengan memberikan permainan dimana diadakan garis tengah yang sebagian kiri dan kanan anak didiknya berdiri. Petunjuk permainan ini sangat mudah dimana mereka akan disuruh maju mendekati garis apabila mereka cocok dengan pertanyaan Mrs Gruwell dan mundur untuk pertanyaan berikutnya. contohnya berapa diantara kalian yang pernah masuk penjara anak-anak ? Mrs Gruwell juga menanyakan tentang kematian dalam kekerasan geng dan banyak pertanyaan lainnya tentang kehidupan mereka sehari-hari. Dari permainan itulah Mrs Gruwell banyak mengetahui latar belakang anak-anak didiknya. Dan selanjutnya Mrs Gruwell memberikan anak-anak didiknya buku jurnal dimana mereka bisa menulis aktifitas keseharian mereka dibuku tersebut bahkan mereka juga bisa menuliskan masa lalu dan masa depan mereka dan aktifitas lainnya dan mereka harus menulisnya setiap hari.
Setelah pulang dari sekolah Mrs Gruwell selalu menceritakan apa yang terjadi di sekolah kepada suaminya tetapi suaminya merasa tidak ada hal lain yang dibicarakan di dalam rumah tangga mereka selain kegiatan Mrs Gruwell di sekolah.
Di sekolah Wilson ini terdapat kebiasaan dimana ada waktu bagi wali murid untuk datang ke sekolah menemui guru kelas. Dan pada kesempatan ini Mrs Gruwell melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan wali murid akan tetapi tidak ada satupun wali murid yang datang. Tetapi moment ini digunakan Mrs Gruwell untuk membaca jurnal harian dari anak-anak didiknya yang sudah mereka letakkan di laci penyimpanan. Dengan membaca jurnal ini Mrs Gruwell lebih banyak mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anak didiknya.
Mrs Gruwell terpaksa bekerja sampingan untuk mendapatkan uang supaya bisa membeli buku yang akan dibacakan oleh anak-anak didiknya. Mrs Gruwell juga terus berusaha untuk mendapatkan dukungan dari orang yang berkuasa yang bernama Dr. Cone untuk mengembangkan minat baca bagi anak didiknya.
Mrs Gruwell membicarakan tentang keinginannya untuk bekerja dengan 3 pekerjaan sekaligus kepada suaminya dan suaminya tidak mau Mrs Gruwell bekerja di 3 pekerjaan.
Disamping itu Mrs Gruwell ingin mengajak anak didiknya jalan-jalan diakhir pekan dan keinginannya tersebut didukung oleh Dr. Cone. Mrs Gruwell mengajak anak didiknya untuk mengunjungi museum, melihat foto-foto orang yang berhidung besar, dan menonton film dokumenter. Di dalam museum mereka diberikan kartu yang terdapat foto salah satu korban holocaust dimana mereka disuruh mencari tau keberadaan korban tersebut. Mrs Gruwell juga melakukan pendekatan dengan mengajak anak didiknya makan malam di hotel tempat dia bekerja. Dan di sana mereka mengundang korban holocaust untuk bertemu anak didiknya agar menceritakan kejadian holocaust. Dan dengan kejadian ini terdapat banyak perubahan yang terjadi pada kelas 203 yaitu sikap kekeluargaan yang sudah mulai ada dan suasana kelas yang mulai tenang dan rapi.
Di kelas dengan akademik yang bagus terdapat satu siswa berkulit hitam yang bernama victoria dimana siswa ini sGruwellg dipojokkan oleh guru yang mengajar di kelasnya sehingga victoria memutuskan untuk pindah ke kelas Mrs Gruwell.
Mrs Gruwell kembali melakukan pendekatan dengan anak didiknya yaitu memberikan 4 buku yang akan dibaca. Tetapi sebelumnya Mrs Gruwell menyuruh anak didiknya untuk mengambil gelas yang berisi air dan bersulang untuk perubahan sambil menceritakan apa yang ingin mereka ceritakan.
Sementara murid-murid disibukkan membaca buku diary Anne Frank, Mrs Gruwell menyuruh mereka menulis surat untuk miep gies yaitu wanita yang membantu menampung keluarga Anne Frank dan mereka bermaksud mengundang miep gies untuk datang ke sekolah. Banyak hal yang mereka lakukan untuk mengundang miep gies untuk bercerita tentang Anne Frank dan usaha mereka banyak diliput di koran.
Banyak hal yang berubah dari pendekatan Mrs Gruwell. Salah satunya yaitu pengakuan jujur dari Eva tentang kasus penembakan kekasih Cindy yang dilakukan kekasihnya Paco di persidangan meskipun dirinya terancam dibunuh karena telah mengkhianati gengnya.
Dibalik kesenangan Mrs Eris dalam mengubah pandangan tentang perbedaan ras ternyata keutuhan rumah tangganya malah tidak bisa dipertahankan. Suami Mrs Gruwell yang lebih sGruwellg berada di rumah merasa dirinya yang menjadi istri. Sebelumnya suami Mrs Gruwell mendukung ia menjadi guru, tapi lama-kelamaan ia keberatan karena Mrs Gruwell tidak memiliki banyak waktu untuk melayaninya sebagai seorang suami. Suaminya merasa cemburu dengan apa yang dilakukan Mrs Gruwell kepada anak muridnya dan mengabaikan dirinya sebagai seorang suami. Bahkan, sang suami mengajukan perceraian.
Selesai sudah perjuangan Mrs Gruwell dalam melakukan pendekatan dan berbagai perubahan pada anak didiknya. Dan memasuki tahun kedua semester musim semi di ruang 203 ada seorang murid yang bertanya kepada Mrs Gruwell apakah mereka masih belajar di ruang yang sama dan masih bertemu dengan Mrs Gruwell ? jawabannya tentu saja tidak karena Mrs Gruwell hanya mengajar di tahun pertama dan kedua. Dan suasana kelas menjadi ramai karena murid di ruang 203 tetap inginkan kelas dan guru yang sama karena bagi mereka ini adalah kelas terbaik mereka, semuanya bisa akrab dan saling kenal, dan di sinilah mereka bisa jadi diri sendiri. Dan mereka memberikan banyak saran yang bisa dilakukan supaya Mrs Gruwell bisa mengajar kelas junior dan senior.
Dibalik masalah Mrs Gruwell yang tidak bisa mengajar kelas junior dan senior juga masalah perceraian dengan suaminya ternyata Ayah Mrs Gruwell sangat mendukungnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Bahkan, Ayah Mrs Gruwell mengaku iri dan mengagumi Mrs Gruwell.
Perjuangan Mrs Gruwell untuk bisa mengajar kelas junior dan senior akan dihadapkan dengan rapat. Pada rapat yang pertama Mrs Gruwell belum diizinkan untuk mengajar kelas junior dan senior karena dianggap menyalahi aturan dan karena Mrs Gruwell baru mengajar selama 2 tahun sedangkan di sana banyak guru yang sudah lama mengabdikan dirinya. Disamping perjuangan Mrs Gruwell agar bisa mengajar kelas junior dan senior terdapat sedikit masalah tentang evaluasi diri dari anak didiknya yang bernama Andre yang memberikan nilai F untuk evaluasi dirinya dan Mrs Gruwell marah karena merasa ini penghinaan bagi dirinya.
Satu tugas terakhir dari Mrs Gruwell yaitu menyatukan buku harian muridnya menjadi buku seperti Anne Frank. Dan buku tersebut mereka namai “The Freedom Writers Diary”.
Selanjutnya diadakan rapat yang kedua untuk memutuskan apakah Mrs Gruwell diizinkan mengajar kelas junior dan senior. Dalam rapat ini Mrs Gruwell menceritakan tentang keakraban antar murid dalam kelasnya, kebersamaan bagaikan keluarga, dan banyak perubahan lainnya kepada dewan pendidik. Dan hasil rapat ini memutuskan bahwa Mrs Gruwell diizinkan untuk mengajar kelas junior dan senior.
Kebahagiaan terpancarkan dari seluruh murid ruang 203 mendengar bahwa Mrs Gruwell akan mengajar mereka di kelas junior dan senior.
Dan buku “The Freedom Writers Diary” diterbitkan pada tahun 1999.